Surat untuk calon imamku

by - July 02, 2015


Assalamualaykum, jodohku...

Entah mengapa hari ini aku tiba-tiba merindukan diri kamu. Sejak aku membuka mata dari lenaku, sungguh aku sangat merindukan diri kamu. Berharap pada saat aku terbangun, aku dapat melihat diri kamu di sebelah tubuhku. Sudah menjadi yang halal untuk kamu.

Wahai kamu yang akan melengkapi separuh dari imanku, separuh dari urusan agamaku, yang akan menjadi pembimbingku dalam kerapuhanku. Bagaimana khabar imanmu hari ini? Apakah sudah jauh lebih baik dari semalam? InshaAllah, harapnya begitulah.

Aku selalu menitipkan doa kepada kamu, melalui tangis dan tawa dalam sujud panjangku, wahai engkau jodohku yang masih menjadi rahsia Illahi Rabbi. Aku selalu meminta agar Allah selalu menjaga kamu di sana. Semoga Allah senantiasa membimbing kamu dalam perjalanan panjangmu. Selalu dikuatkan iman kamu dan juga kita, selalu dilebihkan kecintaan kamu terhadap Allah dan Rasul-Nya. Apakah kamu mengucapkan doa yang sama dalam setiap solat kamu? Dalam sujud panjang kamu? 

Di sini, aku senantiasa belajar agar mampu menjadi lebih baik lagi untuk kamu seperti yang mungkin sedang engkau lakukan di sana. Aku ingin menjadi calon isteri yang baik untuk kamu, juga calon ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Aku ingin menjadi isteri yang mampu memberi kesejukan untuk diri kamu, memberikan seluruh hati dan jiwaku.

Aku tak dapat menjanjikan apa-apa untuk kamu. Tapi inshaAllah, aku punya cinta yang cukup untuk kita berdua. Aku ingin merawat dan menjaga kamu, sebaik aku merawat dan menjaga diriku sendiri. Dan akan aku selalu setia. Selama aku hidup di dunia yang fana ini, aku diajar bahawa kesetiaan adalah harga diri yang harus aku junjung tinggi. Dan sebagaimana aku bersetia, aku percaya bahawa Allah juga akan membantu untuk menjaga hatimu untukku.

Sekarang mungkin kita sudah dipertemukan. Namun, aku meminta kepada Allah semoga kelak saat kita sudah bersedia, aku sudah mampu menjadi seseorang yang boleh dijadikan pendampingmu, sudah bersedia menjadi ibu dari anak-anak kita, sudah bersedia menjadi pendukung ketika kamu memerlukanku, dan semoga kita sudah mampu untuk saling menguatkan serta lengkap-melengkapi di antara satu sama lain. 

Untuk apa menjalani hidup berdua kalau segala kesusahan dan kesenangan tak dapat dikongsi bersama? Untuk apa kita saling mencintai kalau bukan untuk saling bantu-membantu, merawati, saling menjaga dan bersetia? Bukankah semua itu hakikat cinta yang Allah berikan pada makhlukNya?

Wahai kamu yang aku cintai, jadilah imam dalam solatku...

Ameen.
Image via Google

You May Also Like

0 comments

Home